Permata berjalan

Arjuna Hijrah
tak terbayang keajaiban datang
tergugah ia melihat keramaian
berumpun menumpuk bagai alang 
entah mungkin buih berserakan
sibuk dengan masing masing urusan

disaat dia jalan
lewatlah sesosok permata tanpa kalam
berjalan tak bergemih ditengah kerumunan
berparas pipih dalam gumam
jatuh hati setiap mata memandang

arjuna bertanya tanya
siapa dia gerangan, begitu elok bak sungai yg tak ada usai
permata yg tiba tiba membayangi dalam lamunnya
hatinya pun terisi dengan sepercik cahaya

langkah arjuna pun tak terasa
setelah bertemu dengan makhluq asing yang tiada pernah berjumpa
ia pun bertanya pada sang empu
“hei empu, siapakah itu permata yang berjalan dalam keramaian?”
si empu pun menjawab
“dialah Laila, sang putri dari sultan malikut sholeh. ada apa gerangan kau tanya anak muda?”

terjawab sudah teka teki hantu jiwanya
hanya dia belum puas dengan kata empunya
penasarannya semakin menjadi jadi 
raganya yg kurus tiada bertepi
hanya karna si laila yg ia temui

Advertisements

Arjuna dan Laila


Laila
Wanita jelita dari kalangan bangsawan
Keluarga terpandang yang buat orang segan
Berparas tipis tak banyak keanehan
Perangai kalem dibalut dengan ketaatan
Suaranya candu bagi orang yang mendengarkan
Dia cerdas tak banyak bicara
Menandakan kewibawaan seorang wanita
Suka berpakaian longgar penuh kesopanan
Tak banyak tingkah serta santun dalam percakapan
Duuh Laila
Kau bikin gila setiap orang yang kau jumpa
Tuhan berikan kau keindahan yang tiada orang lain punya
Kau berjalan bak putri malaikat yang menyayat mata
Auramu membuat hati pemuda reruntuhan 
Bahkan susah mereka memalingkannya
.
Sedangkan Arjuna
Pemuda desa yang hanya separuh jiwa
Dari keluarga biasa dan pula tak banyak harta
Berpakaian ala kadarnya tak banyak bergaya
Mencari kehidupan demi membiayai keluarga
Tak pandai dan tak cakap pula dalam berkata
Tapi Tekad menyuruhnya untuk terus berusaha
Hingga pada akhirnya kau pergi ke kota
Mencari kebahagiaan batin yang hingga kini belum berjumpa

Lamunan


Di malam yang rindang
Kembali arjuna berjalan kebarah bulan
Pencarian Lalila tak kunjung datang
Mencari terus mencari sampai sukma pun bermekaran
Laila bagaikan air yang tak tersentuh
Indah sekali tapi hanya bayangan
Tak mungkin arjuna bercakapan
Bayangan Semu tapi ia rasa ada berwujudan

Arjuna tak kenal lelah 
Ia Bersujud pada rab kabarkan keluh kesah
“Ya rabb, Kasihmu ini sedang berpilu,
tak kunjung laila datang menghampiriku,
Apa mungkin dia malu, atau dia tak sudi menemuiku?”
Arjunapun terlelap dalam dekapan sajadah rindang
Ia bermimpi bertemu seseorang
Dalam percakapan, ia mendengar  “Laila mendengar, Kamu jangan bersedih, rintihanmu membuat penghuni langit bersedu”

Arjuna Bangun kaget bukan kepalang
Ia usap wajah merenung dalam taman
Kicauan mimpi membuatnya tersadar
Bahwa Masyarkat langit ikut mengamini dalam balik layar

Selamat Jalan Mbah Patmi

Mbah Patmi

Ibu berbalut perjuangan hak asasi

Menjadi bukti bahwa keadilan masih tumpul

di negri yang bak miniatur kusut tersimpul


hak yang harusnya tak kau cari

geger sudah karna perlakuan para pencaci

repot repot akhirnya ke dewan mantri

hanya untuk aduan semata hak sesuap nasi


sang dalang lupa kursinya

dia tak lihat, patmi kehujanan demi haknya

hingga sampai semen kakinya

berharap sang kaki meneriakkan isi hati

berharap haknya kembali dan para jejongos itu pergi dari hadapan

hingga ia pun bisa kembali menikmati pekerjaan


hai dalang… 

apakah kau lupa janji manismu

kau bilang akan bela rakyat demi kursimu

kursmi sudah kau dapat, tapi kau lupa dengan rakyatmu

dimana keadilan, dimana kebajikan

sudahlah…


rakyatmu tak kuasa 

patmi sudah tiada

kaki pasungnya tinggal jadi saksi

tapi percuma saja karna hati dalang tak bergemih

Laila dalam mimpi


Arjuna kembali bermimpi
tentang keindahan tersibak bak air hujan
menenangkan menentramkan
kasihpun tenggelam dalam keheningan

melihat dua sejoli duduk berdampingan
menikmati cinta sang pencipta alam
symponi fatamorgana berdendang begitu kencang
rasa sayup rindu terlepas berterbangan
sahdu pun terdengar begitu kegirangan
Indah benar itu keindahan

Puan pelita
Hati kemana akan bersua
tinta kasih pun tercoret dalam kata
tentang kasih yang hanya kosong belaka
iri hati melihat mereka
berkhayal dalam pencarian si laila

hhmm.. 
Tak adalagi suram
mungkin semua sudah padam
Mantra guna sudah terkirimkan
hanya obat hati yang masih tersimpan

Arjunapun bersedih
Berselaput mimpinya yang tak rapih
mungkin tak kuasa ia tahan letih
pencarian laila yang tak kunjung pulih

Rindu Arjuna


Balada datang melanda
Bungkam sudah ucap kata
terdiam bisu tanpa sisa
hati merintih menangis tanpa sia
Rindu datang
Yaaah.. mungkin itu hanya perasaan belaka
tapi kenapa ia tau mau pergi dari lubuk mata
airmata menangis bak aliran sungai
mengucurkan sakit tak terhingga
Sirna sudah harapan
hilanglah sang mimpi
kuteriak dan kulari dari kejarannya
duhai sang rindu

    Sajak Dosa

    Memang tak pandai kau dalam beramal
    tak pandai pakai akal
    Tak kuat dengan dosa menimpal

    kau ini apa?
    apakah kau manusia
    tapi kenapa kehidupanmu tak seperti mereka
    atau kau ini tumbuhan
    yang hanya berdiam diri tanpa melangkah kedepan
    atau bahkan hewan
    yang hanya makan tidur kawin saja

    Kau ini apa?
    Nafsumu selalu kau ikuti
    Hati bicara tak kau patuhi
    kaki kau langkahkan
    tangan kau gerakkan
    tanpa ada pertimbangan

    Kau ini apa?
    Perubahan bisa kau lakukan
    tapi malah kau nafikkan
    perbaikan dapat kau perbuat
    tapi kau malah mengela

    aaahh.. sudahlah
    kebangkrutan berlubang dalam hidupmu
    kehancuran berujung di jiwamu

    Tapi
    Tuhanmu maha rahman
    Tuhanmu maha rahim
    Gustimu tak pelit
    Rahmatnya bak air sungai mengalir
    Usahamu serahkan
    Ikhtiyarmu kuatkan
    Sujudlah tengah malam
    Ya rabbi.. ya rabbi..