Hujan

Aku dan Hujan
Sudah lama tak kurasa
lama kita tak jumpa
sekali jumpa begitu sumringah ini jiwa
kau guyur hempasan debu
kau guyur itu kering
kau guyur kemarau itu

aku dan hujan
mengapa kau sembunyikan filosofi itu
aku mau tau
aku mau kau buka tabir di balik mendungmu

hujan…. aaah kau mengingatkanku lagi
dia yang juga sedang menikmatimu
aku disini, hanya hatiku yang bicara
apakah dia juga mengatakan apa yang sedang ku katakan

jan..
aku mau kau kirimkan pesan ini ke dia
dia yang mungkin sesang meniknatimu
ku jadikan kau seperti burung dara
kirimkan kirimkan kirimkan..

Zia ul- Haq

Jendral Zia-ul Haq, mungkin nama tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita,apalagi di kalangan masyarakat Pakistan dan mahasiswa Indonesia yang berada di Pakistan. Beliau merupakan seorang tokoh berkebangsaan Pakistan yang memiliki peran cukup besar dalam pergerakan dimensi pemerintahan negara Pakistan. Tetapi banyak juga yang masih belummengetahui siapakah Jendral Zia-ul Haq itu? dan apakah peran-perannyadalam pemerintahan Pakistan?

Muhammad Zia-ul Haq, lahir di Jalandhar Pakistan pada tanggal 12 Agustus 1924 ia merupakan putra sulung dari Muhammad Akram, seorang guru disekolah Militer British. Setelah menyelesaikan Sekolah Tingkat Atas (STA) di Shimla, melanjutkan pendidikan B.A Honors di St. Stephen College Delhi. Iapernah menjabat sebagai perwira di angkatan tentara British pada tahun 1943 dan bertugas di Burma, Malaya dan juga di Indonesia ketika perang dunia ke 2 berlangsung. Ketika perang Dunia ke 2 selesai,  ia bergabung dengan angkatan darat Pakistan pada masa perjuangan Pakistan merebut kemerdekaan dari Inggris. Sebagai Mayor ia mendapat kesempatan untuk melakukan pelatihan di Komandan Sekolah Staf di Amerika Serikat pada  tahun1963-1964. Selama perang pada tahun 1965, ia bertindak sebagai Asisten Quartermaster 101 Divisi Infantri yang mana ia berada di sektor Kiran, kemudian pada tahun 1967 sampai 1970 diposkan di Jordania dan bergabung dengan pelatihan militer Jordan, kemudian ditetapkan sebagai Komandan  Kesatuan di Multan pada tahun 1975.

Pada tanggal 1 April 1976, secara mengejutkan Perdana Mentri Pakistan, Zulfiqar Ali Buttho, menunjuk Jendral Zia-ul Haq menjadi kepala Tentara Pakistan menggantikan 5 Jendral atasannya. Keputusan Bhuttho seakan menunjukkan keinginannya untuk menjadikan seorang kepala angkatan perang, yang tidak akan bisa mengancam kedudukannya pada waktu  itu. Tapi bagaimanapun juga, sejarah membuktikan bahwa Jendral Zia-ul Haq memiliki pemikiran yang lebih cemerlang dibandingkan dengan Perdana Mentri Zulfiqar Ali Buttho. Ketika suasana perpolitikan di Pakistan semakin memanas, dan memuncak ketika terjadi kebuntuan antara Buttho dan kepemimpinan Aliansi Nasional Pakistan pada masalah pemilihan umum. Pada saat itulah Zia-ul Haq mengambil sebuah kesempatan, maka pada tanggal 5 Juli 1977, ia melakukan kudeta tak berdarah menggulingkan pemerintahan Bhutto dan menegakkan Militer Darurat di negeri Ali Jinnah ini.

Setelah merebut kekuasaan dan menjadi Kepala Militer Darurat, Zia-ul-Haq berjanji akan  mengadakan Pemilihan Umum dalam 90 hari ke depan dan menyerahkan kekuasaannya kepada wakil rakyat. Akan tetapi, pada bulanOktober 1977, ia mengumumkan penundaan pada rencana Pemilihan Umum. Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan bahwa, keputusan ini berubah karena adanya tuntutan yang sangat kuat dari masyarakat, untuk mengawasi pemimpin-pemimpin politik yang terlibat dalam malpraktek  pada masa  sebelumnya. Sebuah kertas putih juga dikeluarkan untuk mengkritik kegiatan-kegiatan pemerintahan Partai Rakyat Pakistan di bawah pimpinan Zulfiqar Ali Bhuttho.

Dengan pensiunnya Fazal Ilahi, (Presiden ke 5 Pakistan periode 14 Agustus 1973-16 September 1978), Zia-ul-Haq diasumsikan akan menduduki kantor Presiden Pakistan pada tanggal 16 September 1978. Tetapi dengan tidak adanya Parlemen yang mengisi, Zia-ul-Haq memutuskan untuk mendirikan sebuah sistem alternatif. Ia memperkenalkan Majlis-e-Shoora pada tahun 1980,  hampir seluruh anggota dewan Shoora yang berada di bawah kepemimpinan Zia-ul haq adalah para intelektual tinggi, cendikiawan, ulama dan jurnalis yang profesional. Majlisdewan Shoora ini bertindak sebagai Penasehat Presiden, yang mana sekitar 284 anggotanya diajukan langsung oleh presiden, sehingga tidak ada tempat lagi untuk menduduki dewan ini.

Pada pertengahan tahun 1980, Presiden Zia-ul Haq memenuhi janjinya untuk mengadakan pemilihan umum di negeri Ali Jinnah ini, akan tetapi, sebelum melaksanakan pemilihan ini ia berusaha untuk mengamankan kursinya terlebih dahulu. Referendum pemilihan umum telah disebarkan di berbagai daerah di Pakistan, guna memilih siapa yang berhak menjadi pemimpin negara kedepannya. Dengan adanya referendum ini, hampir 98% mendukung Zia-ul Haq untuk tetap menjadi presiden Pakistan.

Seiring berjalannya waktu, parlemen di bawah Zia-ul Haq ingin memiliki lebih banyak kebebasan dan kekuasaan. Pada awal tahun 1988, rumor perselisihan antara Perdana Menteri dan Zia-ul-Haq semakin memanas, bahkan rakyat umum banyak yang berpendapat bahwa selama ini presiden hanya menikmati kekuasaanya yang cukup lama, yaitu selama 8 tahun,. Pada tanggal 29 Mei 1988, Zia-ul-Haq membubarkan Majelis Nasional dan menghapus Perdana Menteri.

Setelah 11 tahun, Zia-ul-Haq membuat perjanjian yang sama kepada bangsa dan negara untuk mengadakan pemilihan umum yang baru. Namun ketika itu, Benazhir Butho (Putri dari Zulfiqar Ali Butho) muncul kembali di pemerintahan Negara, dan menjadi pemimpinan Liga Muslim setelah ia merasa kesal  dengan presiden atas keputusan 29 Mei.  Pada saat itu Zia-ul Haq terjebak dalam situasi yang paling sulit dalam kehidupan politiknya. Satu-satunya pilihan yang tersisa baginya adalah untuk mengulang sejarah dan menunda pemilihan umum lagi.

Namun, sebelum mengambil keputusan tersebut, Zia-ul Haq meninggal dalam kecelakaan udara di dekat Bhawalpur pada tanggal 17 Agustus 1988. Kecelakaan itu terbukti sangat memilukan bagi negara karena hampir seluruhpembesar militer Pakistan juga berada di dalam pesawat tersebut. Duta Besar Amerika Serikat untuk Pakistan juga tewas dalam kecelakaan itu, jenazah Zia-ul Haq dimakamkan di samping Masjid Faisal, Islamabad. Kematiannya sangatlah dikenang oleh masyarakat Pakistan, banyak petinggi-petinggi negara yang ikut melayat jenazahnya, termasuk sejumlah petinggi-petinggi negara Afghanistan, karena kejadian ini merupak kejadian yang besar dalam sejarah negara Ali Jinnah.

Selama pemerintahannya, Zia-ul Haq berusaha maksimal untuk mempertahankan hubungan dekat dengan Dunia Muslim. Ia membuat upaya yang kuat bersama dengan negara muslim yang lain untuk mengakhiri perang antara Iran dan Irak. Pakistan bergabung dengan Gerakan Non-Blok pada tahun 1979 selama masa Zia-ul-Haq. Ia juga ikut terlibat dalam membantu rakyat Afghanistan ketika memerangi Uni Soviet.

Jendral Ziaul- Haq memiliki peran yang besar dan harus diketahui oleh masyarakat Indonesia, ketika pasukan Inggris yang sedang bertempur bersama pejuang-pejuang Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaannya di Surabaya, ada beberapa pasukan dari Pakistan dan juga India (Gurkha) yang didatangkan oleh tentara inggris, dan salah satu pasukan Pakistan yang ikut dalam misi tersebut adalah Jendral Zia-ul Haq. Tentara tentara Pakistan mulai terketuk hatinya ketika melihat banyak musuh-musuh yang di hadapi adalah saudara-saudara mereka seiman dan mereka menyautkan takbir, bahkan mereka membelot dari pasukan Inggris dan membantu rakyat-rakyat Surabaya dalam memerangi Inggris. Jendral Ziaul-Haq kemudian  kembali ke Pakistan dan memiliki andil yang sangat besar dalam pemerintahan negara tersebut.