Gelapan Malam

Gelap, kadang tergambar pada sesuatu yang seram dan mistis. padahal bila terkena cahaya, ia berubah menjadi sesuatu yang indah bak permata.

gelap, ia tak selalu memberikan keburukan. justru ia akan memberikan ketenangan dan ketentraman ketika para pecinta dapat bersua dengan sang pencipta di malam berselaput doa.

gelap, ingat ketika kecil, kita sangat takut akan hadirannya, namun dewasa ini, kau pun tau bagaimana nikmat yang tersembunyi dibaliknya

ya rab. berikan nikmatmu padaku digelap ini, berikan lenteramu dengan rahmat dalam hati, sehingga aku mampu selalu bersamamu di sepanjang malam sunyi…

(Filosofi Rindu)

Suratan Kasih

Tiba tiba hujan turun
mendendangkan percikan keindahan
arjuna terlarut dalam pedihan
bingung apa yang akan ia lakukan

akhirnya ia ungkapkan perasaan dalam suratan
ditulislah dengan hati paling dalam
“hai kau yg ada dalam lamunan, percikan indahmu sudah basahi jiwaku, dalam sepi kutuliskan suratan alam, ku ungkapkan perasaan yang dalam, berharap burung burung mengamini dengan kicauan.
Kau yang bernama laila, ku ucap selalu asmamu dalam doa, terlanjur fana dengan paras sederhana, yang terlalu sayang bila tak tertata, aku sudah seperti orang gila yang tak ada empunya, berjalan tak tahu arah pulang, kerana jalan sudah berubah jadi usang.
aku dan kamu bagaikan langit dan bumi, jauh dan jauh sekali, kau di atas aku di bawah, kau bangsawan aku orang pedalaman, kau berparas aku tak waras, tapi hakikat itu tak ada sekat, bumi dan langit pun jadi sangat dekat, terhubung rintihan doa yang terikat, ku teteskan selalu dalam sujud yang erat, berharap kau akan dekat dan lebih mendekat, pada jiwa ini yang mlarat.”

arjuna berharap hati tersampaikan
hingga laila faham bahwa suratan itu adalah ungkapan
tapi mungkin itu hanya omong belakangan
karena arjuna belum siap suratan itu diberikan
(Filosofi Rindu)

Mencari Pujaan

Dari kota yang runyam
hingga bertemu sang pujaan
arjuna masih terus berjalan dan berjalan
bunga bermekaran
sungai bernyanyi dengan aliran
bayangan laila terus terbayang
tak hilang dan tak mau meninggalkan

Dalam jalannya ia terus melamun
berubah sudah fikiran
rancu rumit tak karuan
Tujuan yang berubah dengan cepatnya

Tak terasa seminggu sudah terlewat
arjuna dilanda balada rindu
Laila misterius yang jadi hantu
bagaimana, dimana, siapakah itu
ia menjelma jadi benalu 
terus menempel hingga membuatnya sahdu

Laila..
Bingung sudah jiwa 
mati kata tak ada rasa
Sibuk dia dalam mencari cara
kata hati yang mau ia tata
hingga sampai pada hati laila
(Filosofi Rindu)

Permata berjalan

Arjuna Hijrah
tak terbayang keajaiban datang
tergugah ia melihat keramaian
berumpun menumpuk bagai alang 
entah mungkin buih berserakan
sibuk dengan masing masing urusan

disaat dia jalan
lewatlah sesosok permata tanpa kalam
berjalan tak bergemih ditengah kerumunan
berparas pipih dalam gumam
jatuh hati setiap mata memandang

arjuna bertanya tanya
siapa dia gerangan, begitu elok bak sungai yg tak ada usai
permata yg tiba tiba membayangi dalam lamunnya
hatinya pun terisi dengan sepercik cahaya

langkah arjuna pun tak terasa
setelah bertemu dengan makhluq asing yang tiada pernah berjumpa
ia pun bertanya pada sang empu
“hei empu, siapakah itu permata yang berjalan dalam keramaian?”
si empu pun menjawab
“dialah Laila, sang putri dari sultan malikut sholeh. ada apa gerangan kau tanya anak muda?”

terjawab sudah teka teki hantu jiwanya
hanya dia belum puas dengan kata empunya
penasarannya semakin menjadi jadi 
raganya yg kurus tiada bertepi
hanya karna si laila yg ia temui

Arjuna dan Laila


Laila
Wanita jelita dari kalangan bangsawan
Keluarga terpandang yang buat orang segan
Berparas tipis tak banyak keanehan
Perangai kalem dibalut dengan ketaatan
Suaranya candu bagi orang yang mendengarkan
Dia cerdas tak banyak bicara
Menandakan kewibawaan seorang wanita
Suka berpakaian longgar penuh kesopanan
Tak banyak tingkah serta santun dalam percakapan
Duuh Laila
Kau bikin gila setiap orang yang kau jumpa
Tuhan berikan kau keindahan yang tiada orang lain punya
Kau berjalan bak putri malaikat yang menyayat mata
Auramu membuat hati pemuda reruntuhan 
Bahkan susah mereka memalingkannya
.
Sedangkan Arjuna
Pemuda desa yang hanya separuh jiwa
Dari keluarga biasa dan pula tak banyak harta
Berpakaian ala kadarnya tak banyak bergaya
Mencari kehidupan demi membiayai keluarga
Tak pandai dan tak cakap pula dalam berkata
Tapi Tekad menyuruhnya untuk terus berusaha
Hingga pada akhirnya kau pergi ke kota
Mencari kebahagiaan batin yang hingga kini belum berjumpa

Lamunan


Di malam yang rindang
Kembali arjuna berjalan kebarah bulan
Pencarian Lalila tak kunjung datang
Mencari terus mencari sampai sukma pun bermekaran
Laila bagaikan air yang tak tersentuh
Indah sekali tapi hanya bayangan
Tak mungkin arjuna bercakapan
Bayangan Semu tapi ia rasa ada berwujudan

Arjuna tak kenal lelah 
Ia Bersujud pada rab kabarkan keluh kesah
“Ya rabb, Kasihmu ini sedang berpilu,
tak kunjung laila datang menghampiriku,
Apa mungkin dia malu, atau dia tak sudi menemuiku?”
Arjunapun terlelap dalam dekapan sajadah rindang
Ia bermimpi bertemu seseorang
Dalam percakapan, ia mendengar  “Laila mendengar, Kamu jangan bersedih, rintihanmu membuat penghuni langit bersedu”

Arjuna Bangun kaget bukan kepalang
Ia usap wajah merenung dalam taman
Kicauan mimpi membuatnya tersadar
Bahwa Masyarkat langit ikut mengamini dalam balik layar

Selamat Jalan Mbah Patmi

Mbah Patmi

Ibu berbalut perjuangan hak asasi

Menjadi bukti bahwa keadilan masih tumpul

di negri yang bak miniatur kusut tersimpul


hak yang harusnya tak kau cari

geger sudah karna perlakuan para pencaci

repot repot akhirnya ke dewan mantri

hanya untuk aduan semata hak sesuap nasi


sang dalang lupa kursinya

dia tak lihat, patmi kehujanan demi haknya

hingga sampai semen kakinya

berharap sang kaki meneriakkan isi hati

berharap haknya kembali dan para jejongos itu pergi dari hadapan

hingga ia pun bisa kembali menikmati pekerjaan


hai dalang… 

apakah kau lupa janji manismu

kau bilang akan bela rakyat demi kursimu

kursmi sudah kau dapat, tapi kau lupa dengan rakyatmu

dimana keadilan, dimana kebajikan

sudahlah…


rakyatmu tak kuasa 

patmi sudah tiada

kaki pasungnya tinggal jadi saksi

tapi percuma saja karna hati dalang tak bergemih